Orangutan Wajib Sekolah Di Pusat Rehabilitasi

Orangutan Sumatra Image(Pongo abelii) dan Kalimantan (Pongo pygmaeus) wajib sekolah. Sekolah Orangutan disebut Pusat Rehabilitasi dan Reintroduksi Orangutan. Di Indonesia sedikitnya (yang saya tahu) terdapat 3 (tiga) Pusat Rehabilitasi dan Reintroduksi Orangutan. Di Sumatera terletak di Taman Nasional Bukit Tigapuluh (Jambi). Sedangkan di Kalimantan adalah Wanariset Semboja (Kalimantan Timur) dan Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah.

Di sekolah (Pusat Rehabilitasi dan Reintroduksi), Orangutan hasil sitaan yang telah dipelihara manusia bertahun-tahun sehingga terbiasa hidup bersama manusia di berikan berbagai pelajaran sehingga mampu bertahan di alam liar kembali.

Sekolah ini tidak mengajarkan “Si Pongo” menjadi makhluk penurut, mau melakukan apa saja yang diperintahkan tuannya. Justru sebaliknya, Program Reitroduksi ini mengajarkan Orangutan agar bisa liar kembali. Tujuannya satu; agar satwa yang sudah jinak karena bertahun-tahun dipelihara oleh manusia ini bisa mencari makan sendiri, membuat sarang, liar dan bisa bertahan hidup di alam bebas tanpa bantuan manusia.

Sebelum mengikuti “pendidikan”, orangutan harus dikarantina untuk pemeriksaan dan penyembuhan berbagai penyakit, termasuk penyakit berbahaya, seperti hepatitis. Setelah kesehatannya pulih, primata ini harus mengikuti kelas mulai dari “playgroup” hingga “kuliah”.

Banyak di antara orangutan yang turut dalam rehabilitasi itu, masih bayi, sehingga perlu perawatan khusus. Tidak berbeda dengan manusia, selain butuh makanan bergizi, mereka juga membutuhkan kasih sayang, karenanya para dewan pengajar khususnya wanita, juga harus menjadi “ibu angkat”, yang menggendong dan memberikan susu botol.

Proses peliaran membutuhkan waktu dan biaya tidak sedikit. Jika orangutan itu telah benar-benar jinak dan sangat tergantung kepada manusia, paling tidak butuh waktu sekitar tiga tahun.

Di Indonesia sedikitnya (yang saya tahu) terdapat 3 (tiga) Pusat Rehabilitasi dan Reintroduksi Orangutan. Di Sumatera terletak di Taman Nasional Bukit Tigapuluh (Jambi). Sedangkan di Kalimantan adalah Wanariset Semboja (Kalimantan Timur) dan Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah.

Pusat Rehabilitasi dan Reintroduksi Orangutan Taman Nasional Bukit Tigapuluh. Pusat Reintroduksi Orangutan Sumatera (Pongo abelii) ini terletak berbatasan dengan Taman Nasional Bukit Tigapuluh, 200 km barat kota Jambi. Dikelola oleh Zoologische Gesellschaft Frankfurt (FZS) yang merupakan organisasi perlindungan alam yang berpusat di Frankfurt, Jerman dan berkonsentrasi menangani satwa yang terancam punah. Dalam merehabilitasi Orangutan Sumatera mereka bekerjasama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi dan Pan Eco Foundation, organisasi perlindungan alam asal Swiss.

Wanariset Semboja (Kalimantan Timur) dan Nyaru Menteng (Kalimantan Tengah). Kedua Pusat Rehabilitasi dan Reintroduksi Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) ini dikelola oleh Borneo Orangutan Survival atau Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo (BOS). Bekerjasama dengan kepolisian dan Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA), dan Departemen Kehutanan. BOS sendiri didirikan oleh sejumlah pekerja asing dan keluarganya serta didukung warga Indonesia dari sejumlah perusahaan asing yang berada di “Kota Minyak” Balikpapan.

Di tengah rasa bangga dan syukur saya akan kerja keras para pecinta Orangutan dalam meliarkan kembali Orangutan Sumaetra (Pongo abelii) maupun Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) terkadang terselip rasa malu juga; kenapa yang mempunyai inisiatif untuk menyelamatkan mereka justru orang asing, bukan kita sendiri yang nota bene pemilik kekayaan ini.

Referensi: alamendah via: wodrpress.com

 

Hutan Rawa Tripa Tersisa 11.504 Hektar

Banda Aceh – Yayasan Ekosistem Leuser (YEL) mencatat sisa hutan rawa tripa hingga April 2012 hanya tinggal 11.504 hektar lagi yang masih utuh. Sementara catatan YEL hingga 26 Desember 2011 lalu hutan rawa tripa masih tersisa 30.000 hektar.

Direktur Konservasi YEL, Ian Singleton mengatakan dari 60.000 hektar luas hutan rawa gambut tripa hanya tersisa 11.504 hektar lagi. Hal tersebut dikarenakan meluasnya pembukaan lahan perkebunan dan meluasnya penggunaan api sehingga tutupan hutan menjadi berkurang.

“Jika kondisi hutan ini terus mengalami kerusakan, maka hutan dengan nilai konservasi tinggi dan orangutan sumatera, tumbuhan dan satwa liar tidak ada lagi hingga akhir tahun 2012,”sebut Ian dalam bahan presentasinya pada seminar lingkungan yang digagas Walhi Aceh di Kantor Bapedal, Jum’at (1/6) tadi siang.

Menurutnya dari tahun 2009-2011 lebih dari 5.000 hektar areal gambut sudah hancur total. Sekitar 100 ekor orangutan sumatera juga mati.

Anehnya lagi selama kurun waktu 4(empat) bulan yakni 26 Desember 2011 – 16 April 2012, YEL mencatat ada 800 hektar lahan gambut rawa tripa yang dibersihkan dan dibakar oleh perusahaan perkebunan yang merupakan habitat orangutan sumatera.

 “Kejadian kebakaran yang terjadi pada Maret 2012 meliputi wilayah yang lebih luas, karena sebelum Januari 2011, pihak perusahaan perkebunan telah membersihkan lahan,” sebut Ian.  

Data tersebut dicatat dengan menggunakan citra satelit landsat 7 terbaru perekaman tanggal 16 April 2012 yang meliputi daerah menunjukkan kembali terjadi pembukaan hutan yang signifikan.

Usai seminar, saat ditemui The Globe Journal, Ian mengatakan  masalah rawa tripa sedang diproses di Jakarta bersama Menteri Lingkungan Hidup dan Mabes Polri. Sebenarnya kami melihat semua perusahaan yang bermain di rawa tripa itu, semuanya ada masalah pembakaran lahan gambut.

 

(Sumber: The Globe Journal/http://theglobejournal.com)

Pongo Abelii

Pongo Abelii

Seekor orangutan sumatera (Pongo abelii) menikmati rotan di stasiun reintroduksi orangutan Frankfurt Zoological Society di Kabupaten Tebo, Jambi, Juli lalu. Setelah menjalani reintroduksi, orangutan akan dilepas kembali ke habitat aslinya di Taman Nasional Bukit Tigapuluh.

Lestarikan Orangutan dan Habitatnya untuk Kehidupan

Selamatkan Aku dan Rumahku!

 

Kalimat di atas mungkin jarang kita dengarkan karena jika kita telah mendengarnya, kita tidak akan pernah melakukan perbuatan yang tidak terpuji seperti merusak hutan. Belakangan ini sering kita dengar, baca dan kita lihat di media massa seperti televisi, radio, koran, serta majalah bahwa di negara kita ini banyak terjadi penebangan liar, alih fungsi hutan menjadi daerah perkebunan dan pemukiman, pembakaran hutan dan bahkan penjarahan sumber daya alam. Hal ini dilakukan oleh sejumlah orang yang tamak dan memikirkan kepentingan diri sendiri tanpa berfikir panjang mengenai dampak dari tindakan yang mereka lakukakan terhadap alam di sekitarnya. Mereka tidak menyadari bahwa hutan sebagai produsen makanan sekaligus sebagai habitat bagi makhluk hidup yang tinggal di sana dan sebagai penyeimbang alam harus dijaga kelestariannya supaya siklus dari kehidupan bisa berjalan dengan baik. Tanpa hutan, banyak masalah yang akan dihadapi oleh makhluk hidup seperti orangutan, harimau, singa dan lain-lain termasuk juga manusia. Sehubungan dengan hal di atas dalam pembahasan ini akan lebih dipaparkan lagi faktor-faktor yang menyebabkan kerusakan hutan sebagai habitat orangutan, jumlah orangutan yang semakin lama semakin menurun serta  cara penanggulangan kerusakan hutan dan jumlah orangutan yang semakin lama semakin menurun.

Adapun faktor-faktor yang menyebabkan kerusakan hutan sebagai habitat dari orangutan adalah sebagai berikut.

Pertama, illegal loging (penebangan liar). Illegal Loging sebagai penyebab terbesar kerusakan hutan Indonesia. Berdasarkan informasi yang telah diperoleh dari Tempo Interaktif, Yogyakarta: Selama sepuluh tahun terakhir, laju kerusakan hutan di Indonesia mencapai dua juta hektar per tahun, dan selama tahun 1985-1997, kerusakan hutan di Indonesia mencapai 22,46 juta hektar. Artinya, rata-rata kerusakan mencapai 1,6 juta hektar per tahun. Hal inilah yang menyebabkan rusaknya ekosistem hutan, perdagangan kayu hutan, hingga makin tingginya tingkat penebangan liar yang menyebabkan harga kayu merosot dan membuat banyak industri kayu resmi terpaksa gulung tikar. Mengapa hal ini bisa terjadi? Mungkin sangat sulit bagi kita untuk menjelaskannya karena semua rangkaian aktivitas tersebut memiliki banyak keterkaitan antara pihak yang satu dengan pihak yang lain, tetapi yang pastinya lemahnya pengawasan lapangan turut memberi andil tingginya laju kerusakan hutan di Indonesia. Padahal, kriteria Direktoran Kehutanan mengenai Tebang Pilih Indonesia (TPI) sebenarnya sudah cukup baik dan sesuai dengan kriteria pengelolaan hutan yang telah dirumuskan dalam berbagai pertemuan ahli hutan sedunia, tetapi di lapangan kriteria itu tidak berjalan akibat lemahnya pengawasan.

            Kedua, alih fungsi hutan. Dengan adanya alih fungsi hutan menjadi lahan perkebunan dan pemukiman maka sejumlah besar hutan di negara ini telah rusak. Proses pengalihan fungsi hutan menjadi hutan produksi atau perkebunan dianggap menimbulkan banyak kerugian. Di antaranya, kesejahteraan masyarakat merosot, spesies satwa terutama orangutan yang jumlahnya makin lama makin menurun serta penyelewengan kekuasaan. Hal ini dapat kita lihat seperti pada kasus pemakaian lahan hutan lindung di kawasan penambangan Batu Hijau Nusa Tenggara. Sejak dimulainya penambangan pada tahun 1999 lalu, metode penambangan yang rakus air diindikasikan mengakibatkan berkurangnya kawasan tangkapan air. Hal itu menyebabkan bahaya krisis air mengancam warga sekitar tambang. Selain mengakibatkan krisis air, pengalihan kawasan hutan juga dianggap penyebab kemungkinan punahnya spesies orangutan. Centre for Orangutan Protection (COP) memperkirakan bahwa orangutan (Pongo Pygmaeus Wumbii) yang berada di luar kawasan konservasi di Kalimantan Tengah akan benar-benar punah dalam dua hingga tiga tahun mendatang. Pembabatan hutan untuk perkebunan kelapa sawit dan lemahnya penegakan hukum merupakan ancaman utama. Investigasi lapangan yang dilakukan oleh COP menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan perkebunan kelapa sawit yang menjadi anggota RSPO seperti Wilmar, IOI, dan Agro Group tetap saja membabat hutan dan orangutan terus menjadi korban. Kini laju penurunan jumlah rata-rata orangutan mencapai 5.325 individu per tahun. Diperkirakan, jumlah orangutan di Kalimantan Tengah, yang populasi orangutannya terbanyak di dunia (Winch, 2004 memperkirakan ada 31.300 individu orangutan merosot menjadi hanya sekitar 20.000 individu saja).

            Masalah lain yang timbul dari pengalihan lahan, merupakan penyelewengan kekuasaan dari aparat pemerintah dan pemimpin lembaga tinggi negara. Hal ini dapat kita lihat pada kasus tertangkapnya anggota perwakilan rakyat (DPR) bernama Al Amin Nasution, jelas menunjukkan satu bukti nyata mengenai penyelewengan tersebut. Beberapa kasus penyelewengan pemanfaatan kayu hasil alih hutan juga terbukti dilakukan beberapa aparat kepolisian Kalimantan Barat, serta kasus pengalihan hutan di Papua dalam kasus operasi hutan lestari tahun lalu, makin menunjukkan kuatnya kenyataan tersebut.

            Proses penataan ruang di daerah juga merupakan penyebab kerusakan hutan, yakni penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) dan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota (RTRWK) yang memberdayakan hutan menjadi tempat tinggal manusia. Kondisi ini harus dihentikan, karena proses tersebut telah mempercepat hilangnya kawasan hutan dalam luasan yang sangat besar. Secara nasional, data Departemen Kehutanan (2007) menunjukkan, perubahan peruntukan hutan lindung dan hutan konservasi secara ilegal yang telah dijadikan areal perkebunan, pertambangan, lahan terbuka, semak belukar, dan budi daya pertanian lainnya dan pemukiman mencapai angka 10 juta hektar. Menurut catatan penelitian data izin konservasi lahan untuk perkebunan dan penggunaan pertanian lain, yang dilakukan Soeharto tahun 2007 lalu, Indonesia diperkirakan sudah menghancurkan lebih dari 28 juta hektar hutan sejak tahun 1990. Sembilan juta hektar di antaranya merupakan pengalihan lahan untuk perkebunan kelapa sawit atau hutan tanaman industri. Bahkan direncanakan luasan hutan tersebut akan mencapai 20 juta hektar lagi, termasuk target pemanfaatan lahan gambut dan hutan alami lain.

Ketiga, lelang hutan. Lelang hutan juga semakin memperparah kerusakan hutan Indonesia. Sebuah jaringan advokasi lingkungan terbesar di Indonesia, menganggap kebijakan Departemen Kehutanan melelang pengelolaan 957.000   hektar areal hutan akan lebih jauh memperparah kerusakan hutan alam Indonesia. Disamping itu langkah ini juga dinilai inkonsisten dengan kebijakan soft landing serta tidak memilki koherensi dengan upaya pembaharuan (reformasi) kebijakan di sektor kehutanan. Menurut data yang telah diperoleh kapasitas industri perkayuan saat ini, baik yang legal maupun ilegal melebihi 70 juta meter kubik.  Selisih atau gap jumlah kayu untuk memenuhi kebutuhan industri telah melampaui 60 juta meter kubik per tahun.

Keempat, pembakaran hutan. Pembakaran hutan juga merupakan penyebab kerusakan hutan yang besar. Hal ini sering terjadi di kepulauan Riau dan Kalimantan. Dan biasanya pada saat musim kemarau. Kebakaran ini dapat menyebabkan kerusakan total pada hutan dan bukan hanya itu, hewan yang ada di dalamnya yang tidak sempat untuk menyelamatkan diri akan habis terbakar dan bahkan generasi penerus dari hewan tersebut yang belum bisa menyelamatkan dirinya akan mati begitu saja. Dengan terbakarnya hutan semua sendi-sendi kehidupan di hutan tersebut akan musnah. Demikianlah faktor-faktor yang menyebabkan kerusakan-kerusakan pada hutan.

Dan bagaimana dengan kehiduapan orangutan dimana hutan sebagai habitatnya telah hancur. Apakah mereka masih bisa bertahan hidup? Kalau mereka masih bisa bertahan hidup, bagaimana dengan generasi mereka? Tidakkah kita perduli terhadap mereka? Haruskah kita biarkan mereka hilang dari peradaban negara kita ini? Tidak adakah cara yang bisa ditemukan untuk menyelamatkan mereka? Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan sangat susah dijawab dan dilaksanakan ketika hati kita masih belum terbuka untuk mereka, ketika kita belum sadar bahwa mereka juga adalah bagian dari hidup kita. Seandainya mereka bisa berbicara, meraka akan memohon kepada kita belas kasihan kita dengan mengatakan “tolonglah selamatkan kami dan rumah kami”. Tetapi sayang mereka tidak bisa berbicara, sebagai manusia ciptaan Tuhan yang paling mulia kita seharusnya dapat merasakan penderitaan yang mereka alami dimana tempat mereka tinggal telah hancur. Mereka jadi berkeliaran ditempat yang tidak sepantasnya ditempati. Sehingga banyak diantaranya yang ditangkap dan dibunuh untuk dimakan dan ada juga yang menjadi binatang peliharaan di rumah.

Dan menurut data yang telah dikumpulkan bahwa jumlah orangutan makin hari kian menyusut dan sudah berada pada ambang kepunahan. Walaupun mereka dilindungi undang undang, diperkirakan 5000 ekor mati setiap tahunnya. Keberadaan kera besar satwa asli Indonesia ini semakin terancam dengan maraknya perambahan hutan di pulau Sumatera dan Kalimantan. Hal ini menarik perhatian dari lembaga-lembaga di Jerman untuk mempertahankan keberadaan orangutan untuk tetap hidup di habitatnya. Orangutan adalah sejenis kera besar yang hanya terdapat di hutan-hutan Indonesia. Menurut data tahun 2004, di pulau Sumatera populasi orangutan tinggal 7000 ekor dan di Kalimantan hanya tersisa 45.000 ekor. Selama 20 tahun belakangan ini, orangutan sudah kehilangan 80% hutan tempat mereka tinggal. Markus Radday, pakar kehutanan dari World Wide Fund For Nature atau WWF Jerman mengungkapkan bahwa penyusutan jumlah orangutan erat kaitannya dengan kerusakan tempat tinggal asli mereka. Pulau Kalimantan kehilangan dua setengah juta hektar hutan tropis pertahunnya. Artinya bila perambahan terus berlangsung tanpa kontrol, keragaman ekosistem yang kita kenal akan hilang pada 2012. Selama 30 tahun, lahan yang dijadikan perkebunan kelapa sawit berkembang menjadi 30 kali lipat di Indonesia dan 12 kali lipat di Malaysia. Kedua negara ini sekarang menjadi produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Rencananya mereka akan terus menambah produksi minyak kelapa sawit. Ini berarti makin banyak habitat orangutan yang akan diubah menjadi perkebunan kelapa sawit. Bila ini terus berlanjut, maka dalam kurun waktu 10 hingga 20 tahun, orangutan akan punah. Apabila hutan dibuka besar-besaran untuk kebun sawit, maka kehancuran hutan itu bisa untuk selamanya. Akibatnya, tidak ada harapan bagi pemulihan hutan dan populasi orangutan yang semakin hari semakin terjepit dan terancam punah.

Tekanan terhadap kelangsungan pertahanan orangutan kini dari dua arah sisi yang terus menekan laju ketahanan populasi orangutan; satu sisi hutan tempat habitat mencari makan oragutan habis karena pembukaan kebun sawit (land clearing) dan satu sisi lainnya manusia membunuh orangutan karena dianggap hama pertanian dan perkebunan. Dari pemaparan ini, dapat disimpulkan bahwa ancaman terbesar terhadap kelangsungan hutan tropis Indonesia dan kehidupan orangutan berasal dari perusakan habitat alam yang disebabkan oleh pembukaan hutan untuk dijadikan lahan pertanian dan perkebunan. Akibatnya populasi orangutan yang semula tersebar luas saat ini terpencar ke dalam kantong-kantong populasi dengan daya dukung habitat yang rendah untuk pertahanan populasi orangutan

            Berbagai lembaga lain di Eropa terutama Jerman berusaha untuk mengembalikan orangutan kepada habitat aslinya, namun habitat aslinya yang berupa hutan tropis, banyak yang telah berubah menjadi daerah alang-alang. The Borneo Orangutan Survival Foundation atau BOS yang berbasis di Kalimantan Timur mengadakan program-program rehabilitasi dan reintroduksi bagi orangutan yang ditemukan hasil razia dari perdagangan atau pemeliharaan gelap. Namun masalahnya tidak semudah itu. Orangutan memerlukan habitat aslinya. Ini berarti, habitat itu harus diciptakan dan ini perlu pembiayaan dan kerja keras.

            Dari rangkaian aktivitas yang dilakukan oleh manusia itu sendiri yang telah memicu kehancuran hutan di negara ini, maka perlu diambil suatu tindakan penyelamatan terhadap hutan beserta spesies yang ada di dalamnya terutama orangutan yang diprediksi akan punah di waktu yang dekat ini jika tidak dilestarikan. Kita bisa melihat beberapa tindakan penyelamatan orangutan seperti yang telah dilakukan oleh beberapa negara, organisasi, dan bahkan pribadi seperti: Presiden Negara Indonesia bapak Susilo Bambang Yudhoyono yang menyerukan pelestarian orangutan untuk selamatkan bumi dalam pidato sambutannya saat meluncurkan buku “Strategi Konservasi dan Rencana Aksi Indonesia Untuk Orangutan” di Bali, Senin sore, dalam acara tambahan Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim. Ditambah dengan makin cemasnya Pangeran Carles yang juga mencemaskan cepatnya laju kerusakan hutan di negara ini sehingga Beliau juga turut mendukung pelestarian hutan Indonesia beserta orangutanya demi keselamatan bumi ini, Negara jerman juga turut ambil bagian dalam penyelamatan ini seperti yang telah dijelaskan di atas. Bahkan baru-baru ini berdasarkan data yang bersumber dari Harian Kompas Sabtu, 29 Nopember 2008 menyatakan bahwa sudah seratus orangutan diselamtkan aparat dan dibawa ke pusat reintroduksi orangutan di kamp Frankfurt Zoological Society di Kabupaten Tebo, Jambi. Setalah dianggab lulus dari “sekolah”, petugas melepas orangutan ke habitat aslinya di sekitar Taman Nasional Bukit Tigapuluh.

            Dan adapun usaha yang bisa dilakukan untuk penyelamatan hutan dan orangutan adalah sebagai berikut:

            Mencegah ladang berpindah, Terkadang para petani tidak mau pusing mengenai kesuburan tanah. Mereka akan mencari lahan pertanian baru ketika tanah yang ditanami sudah tidak subur lagi tanpa adanya tanggung jawab membiarkan ladang terbengkalai dan tandus. Sebaiknya lahan pertanian dibuat menetap dengan menggunakan pupuk untuk menyuburkan tanah yang sudah tidak produktif lagi.

            Waspada terhadap api, Hindari membakar sampah, membuang puntung rokok, membuat api unggun, membakar semak, membuang obor, dan lain sebagainya yang dapat menyebabkan kebakaran hutan. Jika menyalakan api di dekat atau di dalam hutan harus diawasi dan dipantau agar tidak terjadi hal-hal yang lebih buruk. Kebakaran hutan dapat mengganggu kesehatan manusia dan hewan di sekitar lokasi kebakaran dan juga tempat yang jauh sekalipun jika asap terbawa angin kencang.

     Reboisasi lahan gundul dan metode tebang pilih, Kombinasi kedua teknik adalah sesuatu yang wajib dilakukan oleh para pelilik sertifikan HPH atau Hak Pengelolaan Hutan. Para perusahaan penebang pohon harus memilih-milih pohon mana yang sudah cukup umur dan ukuran untuk ditebang. Setelah menebang satu pohon sebaiknya diikuti dengan penanaman kembali beberapa bibit pohon untuk menggantikan pohon yang ditebang tersebut. Lahan yang telah gundul dan rusak karena berbagai hal juga diusahakan dilaksanakan reboisasi untuk mengembalikan pepohonan dan tanaman yang telah hilang. Supaya lebih efektif, usaha penggegasan pengembalian fungsi hutan seperti reboisasi dan penghijauan harus dipayungi oleh kebijakan dan hukum. Apalah arti pencanangan gerakan reboisasi dan penghijauan, jika hanya sebuah kebijakan populis? Bagaimana mungkin permasalahan banjir dapat diminimasi secara berangsur jika pengrusakan ekosistem hutan masih berlangsung? Dengan demikian, penting kiranya bagi pemerintah untuk berkomitmen dalam kebijakan yang dibuat dan menegakkan payung hukum yang berlaku bagi kelestarian hutan dan fungsi-fungsinya. Tentunya, harus didukung dan dibantu masyarakat sekitar secara swadaya.

            Menempatkan polisi hutan, Dengan menempatkan satuan pengaman hutan yang jujur dan menggunakan teknologi dan persenjataan lengkap diharapkan mempu menekan maraknya aksi pengrusakan hutan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Kalaupun selama ini polisi kehutanan sudah ada, ada baiknya jika mereka lebih dimanfaatkan lagi. Bagi para pelaku kejahatan hutan diberikan sangsi yang tegas dan dihukum seberat-beratnya. Hutan adalah aset / harta suatu bangsa yang sangat berharga yang harus dipertahankan keberadaannya demi anak cucu di masa yang akan datang.

            Mengadakan kerja sama dengan negara luar, hal ini juga merupakan langkah yang sangat tepat dalam menjaga kondisi hutan supaya tetap lestari. Indonesia sebagai salah satu pemilik hutan tropis terluas di dunia sangat memerlukan bantuan kerja sama orang asing karena bukan hanya negara indonesia saja yang menikmati hasil dari kelestarian hutan tersebut melainkan semua negara di dunia ini. Dimana negara-negara yang tidak memiliki hutan tropis memberikan sumbangan demi kelancaran program pelestarian hutan dengan seluruh komponen yang ada di dalamnya.

     Mengadakan Sosialisasi hutan, ini merupakan tindakan yang sangat perlu dilakukan untuk menstimuli kesadaran masyarakat. Dengan terciptanya kesadaran masyarakat, akan menumbuhkan kesepahaman bersama tentang makna kelestarian hutan dan manfaat yang terkandung di dalamnya. Jelas penebangan hutan memberikan keuntungan tersendiri secara material! Namun, seberapa besarkah kalkulasi keuntungan yang didapat dibandingkan kerugian yang ditimbulkan? Dalam hal inilah masyarakat perlu disadarkan bahwa pertimbangan ekonomis bukanlah hal utama. Dalam beberapa kasus pengrusakan hutan yang sukses proses mitigasinya, pertimbangan-pertimbangan ecological disaster risk, social risk serta health risk lebih sering dikedepankan. Boleh dikatakan, keuntungan dari pengrusakan hutan umumnya memiliki multiplier effects sedikit, yakni hanya dinikmati segelintir orang sedangkan kerugiannya jelas memiliki mutliplier effects besar karena banyak orang yang akan menderita, material maupun immaterial.

Adanya program pengembalian orangutan yang sudah tersebar dibeberapa daerah atau negara ke habitatnya, serta dilakukannya pemeriksaan terhadap rumah-rumah penduduk yang tinggal di sekitar hutan apakah ada yang memlihara orangutan atau tidak. Dan jika terdapat ada yang memeliahara orangutan maka dia harus segera dikembailikan pada habitatnya yang sebenarnya. Demikian juga dengan penyelundupan ratusan orangutan yang dipergunakan sebagai obyek atraksi di beberapa negara tetangga harus segera dihentikan dan orangutan-orangutan tersebut harus segera dikembalikan pada habitat asli Indonesia, tepatnya di Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan.

            Dengan dikembilkannya mereka pada habitat yang sebenarnya, secara akan mendapatkan beberapa keuntungan dengan beberapa potensi yang dimiliki oleh orang utan seperti:

            Potensi Ekonomi, Jika kawasan Pelestarian Orangutan Sumatera mampu untuk dikelola dengan baik, maka ini merupakan potensi yang sangat menjanjikan dalam menambah Pendapatan Asli Daerah melalui wisatawan yang berkunjung ke kawasan pelestarian Orangutan Sumatera. Tidak hanya Pemerintah Propinsi Sumatera Utara yang akan menikmati hasilnya, namun juga masyarakat yang berada di sekitar kawasan ini. Jika dirata-ratakan, jumlah wisatawan yang berkunjung ke kawasan wisata Bukit Lawang dan Tangkahan mencapai sekitar 15 – 20 orang per hari. Jumlah ini belum termasuk wisatawan lokal yang berasal dari Medan dan daerah-daerah lainnya di Sumatera Utara yang biasa berkunjung pada akhir minggu. Menurut pengalaman penulis yang sudah pernah berkunjung ke kawasan Bukit Lawang dan Tangkahan, satu orang wisatawan yang berkunjung dan menginap selama satu hari di sekitar kawasan ini, akan mengeluarkan uang sebesar lebih dari 150 ribu rupiah. Besarnya dana ini dialokasikan untuk transportasi, penginapan, makan dan minum serta pembelian cenderamata. Ini merupakan perhitungan kasar untuk wisatawan lokal, sedangkan untuk wisatawan mancanegara bisa mencapai dua sampai tiga kali lipat dari cost yang harus dikeluarkan oleh wisatawan lokal.

            Potensi Penelitian, Selain wisatawan, potensi yang bisa dijadikan pemasukan adalah para peneliti yang banyak berasal dari luar negeri. Mereka tidak hanya melakukan penelitian mengenai Orangutan Sumatera namun juga mengenai potensi keanekaragaman hayati yang ada di sekitar Kawasan Ekositem Leuser, serta masyarakat sekitar kawasan tersebut. Jika pihak keimigrasian memperpendek jalur birokrasi untuk pengurusan perpanjangan Visa mapuan Passport, maka para wisatawan dan peneliti yang berasal dari luar negeri tidak akan memilih negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Thailand sebagai persinggahan sementaranya dalam pengurusan Visa dan Passport untuk memperpanjang izin tinggal di Indonesia.

            Maka dengan demikian, terciptalah sebuah hutan yang lestari dengan keseimbangan yang bagus, dengan adanya hutan yang lestari maka kehidupan orangutan yang sudah diprediksi akan punah dalam waktu yang sudah dekat tidak akan sudah aman kembali. Mereka bias bebas berkeliaran di habitat mereka tanpa ada ganguan dan halangan untuk meneruskan generasinya. Dan bukan hanya orangutan saja yang akan menikmati akibat dari kelestarian hutan tersebut, tetapi manusia juga. Dimana dengan lestarinya hutan setidaknya memperlambat proses pemanasan global yang sudah semakin parah saat ini, disamping itu dengan lestarinya hutan akan mengurangi tingkat tanah longsor yang belakangan ini sering terjadi di negara kita serta mengurangi tingkat kebanjiran yang telah menghancurkan banyak daerah di Indonesia. Untuk itu kita harus mempertahankan hutan kita agar tetap lestari demi kelangsungan hidup kita dan anak cucu kita semua.

Sumber: http://lnaibaho68.blogspot.com

Menyelamatkan Orangutan

Image

Seekor orangutan sumatera (Pongo abelii) menikmati rotan di stasiun reintroduksi orangutan Frankfurt Zoological Society di Kabupaten Tebo, Jambi, Juli lalu. Setelah menjalani reintroduksi, orangutan akan dilepas kembali ke habitat aslinya di Taman Nasional Bukit Tigapuluh.

Setelah pemasangan alat pemancar pada tengkuk, delapan orangutan sumatera akhirnya dilepas ke Taman Nasional Bukit Tigapuluh, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi. Pelepasan tersebut untuk menjaga kelangsungan hidup satwa liar yang dilindungi tersebut dari ancaman kepunahan.

Sakdiyah, orangutan (Pongo abelii) betina, kini berusia tujuh tahun. Petugas mendapatinya sebagai korban peliharaan penduduk di Blangkejeren, Aceh. Setelah diselamatkan petugas dari kandang besi pemiliknya, Sakdiyah menjalani perjalanan darat selama dua malam pada Juni 2010 menuju pusat reintroduksi orangutan di kawasan penyangga Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT).

Setelah itu, Sakdiyah mengikuti rangkaian pelajaran beradaptasi hidup dalam hutan, seperti mencari makan sendiri dan memanfaatkan sumber makanan yang tersedia di alam. Itu diberikan agar kelak ia dapat hidup secara mandiri di dalam hutan.

Akhir September lalu Sakdiyah bersama tujuh orangutan lainnya menjalani operasi pemasangan transmiter oleh tim dokter hewan Perth Zoo bersama Frankfurt Zoological Society (FZS). Kepingan transmiter itu dipasang di bagian tengkuknya berdiameter 3 sentimeter dan tebal 1 cm. Setelah terpasang, transmiter akan secara otomatis mengirim pesan pada pukul 07.00 hingga 15.00 setiap hari selama dua tahun.

Setelah dokter menyatakan kondisi Sakdiyah dan tujuh ekor orangutan lainnya sehat, mereka pun mulai dilepas secara bertahap ke habitat aslinya di TNBT. Selain mempertimbangkan kondisi kesehatan, pelepasan mereka disesuaikan dengan masa musim buah di dalam hutan yang berlangsung setiap bulan Oktober hingga akhir Maret.

”Dari delapan ekor orangutan, dua ekor di antaranya, yakni Sakdiyah dan Abel, telah dilepasliarkan,” kata Manajer Stasiun Reintroduksi Orangutan Sumatera FZS Julius Paolo Siregar, Sabtu (20/11).

Julius melanjutkan, sebanyak dua orangutan lagi rencananya akan dilepasliarkan pada bulan Desember. Sementara itu, empat ekor orangutan lainnya akan dilepasliarkan pada musim buah tahun depan.

”Mengingat usia Sakdiyah yang masih remaja, kami memilih daerah pelepasliaran yang tidak terlalu jauh dari stasiun reintroduksi. Itu karena orangutan remaja memerlukan pengawasan permanen agar petugas dapat terus mengetahui perkembangan kemampuan adaptasinya,” lanjut Julius.

Pelepasan Sakdiyah juga bertujuan sebagai ajang uji coba pemanfaatan transmiter. Para teknisi akan menggunakan alat penerima deteksi transmiter. Bahkan, nantinya para teknisi diharapkan mampu memahami cara mengoperasikan dan memanfaatkan alat penerima pesan, mencari orangutan melalui deteksi sinyal transmiter yang diperoleh, serta menggunakan metode penelusuran untuk mengikuti orangutan yang telah dipasang transmiter.

Selain Sakdiyah, ada pula Abel, orangutan jantan berusia 13 tahun yang dilepasliarkan di daerah Sungai Manggatal bagian hilir. Tempat ini sudah masuk kawasan TNBT.

Abel dimasukkan ke dalam boks transpor dan dipikul oleh sejumlah relawan. Rombongan menempuh perjalanan sekitar 7 kilometer dengan berjalan kaki menuju hutan.

Di dekat lokasi pelepasan Abel, petugas rupanya mendapati dua orangutan sumatera lainnya, yakni Rencong, orangutan jantan berusia 13 tahun, dan Bolo, orangutan betina berusia 10 tahun. Kedua orangutan ini juga termasuk orangutan sitaan yang direhabilitasi dan kemudian dilepasliarkan. Para petugas gembira mendapati keduanya dalam keadaan sehat, yang berarti telah berhasil beradaptasi dalam hutan. Keberadaan mereka juga akan membantu proses adaptasi Abel untuk hidup di dalam hutan.

Jadi tolok ukur

Pemasangan transmiter pada orangutan sumatera merupakan program pertama yang dilakukan di Indonesia. Primate Section Supervisor, Exotic Mammal Perth Zoo Clare Olivia Campbell menjelaskan, teknologi ini sangat menguntungkan dan dapat menjadi tolok ukur kesuksesan program konservasi karena memberikan informasi atas habitat orangutan sumatera yang statusnya kini telah sangat terancam punah.

Sejak program reintroduksi orangutan dimulai pada 2002, sebanyak 136 ekor orangutan korban peliharaan dan perdagangan ilegal telah direhabilitasi, dan 119 ekor di antaranya telah dikembalikan ke habitat aslinya di TNBT. Hutan sekitar TNBT dipilih menjadi lokasi pelepasan orangutan karena lokasinya berada di dataran rendah.

Kondisi ini cocok untuk spesies tersebut, yaitu pada ketinggian maksimal hanya 800 meter. Kawasan ini juga pernah ditinggali banyak orangutan. Sekitar 40 tahun lalu, orangutan lenyap dari kawasan ini akibat maraknya perburuan.

Dengan tidak adanya lagi orangutan dalam hutan ini, para penghuni baru yang sebagian berasal dari wilayah Sumatera Utara dan Aceh itu dapat hidup dan beradaptasi lebih leluasa. Persaingan untuk mendapatkan makanan akan lebih seimbang di antara sesama orangutan.

Saat ini diperkirakan jumlah orangutan tersisa 6.500 ekor di Sumatera dan 45.000 ekor di Kalimantan. Jadi, upaya penyelamatan wajib dilakukan.

 

(Sumber: http://health.kompas.com)

Rawa Tripa

Rawa Tripa adalah suatu kawasan seluas 61 803 hektar di pantai barat provinsi Aceh di bagian utara pulau Sumatera. Tripa mengandung keragaman hayati yang tinggi, di samping sangat penting bagi penduduk setempat. Tripa juga merupakan penampungan karbon terbesar di Aceh.

Tripa adalah satu dari hanya enam tempat di mana masih terdapat orangutan Sumatera (Pongo abelli) yang terancam, dan salah satu dari situs prioritas UNEP-GRASP untuk spesies tersebut. Saat ini masih ada sekitar 280 ekor, yaitu lebih dari 4% dari jumlah keseluruhan di dunia. Tripa memiliki salah satu kepadatan yang tertinggi di dunia untuk orang utan, yang berakibatkan berkembangnya kebudayaan menggunakan alat yang tidak ada duanya di kalangan spesies ini.

Tripa mengandung antara 50 dan 100 juta ton karbon dan merupakan penampungan karbon positif bersih. Namun, jumlah karbon yang tinggi sedang dilepaskan oleh karena penghancuran gambut lewat pembakaran, drainase dan oksidasi yang dilakukan oleh perusahaan perkebunan sawit.

Masalah

Empat perusahaan perkebunan sawit besar sedang menghancurkan hutan Tripa, membakar gambutnya dan menggali saluran untuk menanam sawit.

Kehancuran seluruh hutan yang masih ada di Tripa diperkirakan akan terjadi sebelum 5 tahun mendatang bila tidak ada tindakan yang cepat untuk menyelamatkannya.

 

(Sumber: http://id.wikipedia.org/)